You have read this article Politisi Partai Demokrat
with the title
. You can bookmark this page URL https://khagussunyoto.blogspot.com/2012/12/aib-aib-politisi-partai-demokrat.html. Thanks!
Home » All Post
Thursday, December 20, 2012
Aib-aib Politisi Partai Demokrat
Sunday, December 16, 2012
PENISTAAN AGAMA
Semarang - Muttaqin, seorang ustadz dari desa Purwosari, Sukorejo, Kendal tidak menyangka menjadi korban pengeroyokan karena khotbahnya saat Salat Jumat. Ia dihajar massa karena berkhotbah terkait tembakau.
Ia menceritakan, Jumat lalu sekitar pukul 19.30 WIB, (23/11/2012), rumahnya didatangi oleh sejumlah orang yang menanyakan apakah dirinya yang berkhotbah saat Salat Jumat. Setelah menjawab pertanyaan tersebut Mutaqqin langsung diseret ke depan rumah tokoh warga bernama Ruwadi.
"Ada orang berteriak, saya disuruh keluar. Dia tanya apa saya yang khotbah tadi siang. Saya jawab 'iya'. Saya lalu dipukuli 15 menit," katanya saat dihubungi melalui telepon, Kamis (29/11/2012).
Dari para pelaku yang diperkirakan berjumlah 20 orang, samar-samar Mutaqqin mendengar alasan kenapa ia dihajar. Menurut para pelaku, ia dihajar karena dalam khotbah Jumatnya menyinggung soal tembakau dan warga sekitar mayoritas adalah petani tembakau.
"Padahal dalam khotbah tidak ada itu (menyinggung tembakau)," ujar Mutaqqin.
Ustadz tersebut berhenti dihajar setelah sampai di depan rumah kepala dusun. Namun saat perjalanan pulang ia mendapati seseorang bernama Chairun juga dihajar. Mutaqqin lalu kembali ke rumah kepala dusun untuk meminta bantuan.
Tidak terima diberlakukan demikian, Mutaqqin dan organisasinya yaitu Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Jawa Tengah melaporkannya ke Polda Jateng. "Saya ingin masalah ini diproses secara hukum," imbuh Mutaqqin.
Sementara itu humas JAT, Endro Sudarsono mengatakan, selain Mutaqqin dan Chairun, ada satu orang lagi anggota JAT yang dihajar massa yaitu Heryadi.
"Tadinya mau lapor ke Polda, tapi ternyata Pak Chairun sudah lapor ke Polres Kendal. Karena kasusnya sama maka saya lapor ke Polres Kendal juga," tutup Endro
Empat Warga NU Ditahan, PCNU Kendal Protes Polres
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal kemarin melakukan protes keras terhadap penahanan empat warganya yang terlibat pemukulan terhadap dua anggota Jamaah Ansoru Tauhid (JAT).
Empat warga NU asal Desa Purwosari, Kecamatan Sukorejo yang ditahan di Polres sejak Selasa (4/12) yakni Asikin, Wan Supriyantoyono, Trimo Blimut dan Khaeron. Mereka diduga memukul dua anggota JAT, yakni Muttaqin dan Khoeron pada Jumat (30/11). Aksi pemukulan terjadi setelah Muttaqin menjadi khatib salat Jumat di Masjid Purwosari, Kecamatan Sukorejo. Dalam khutbahnya lewat pengeras suara, Muttaqin mengkafirkan warga NU yang menggelar tahlilan, manakib, dan ziarah kubur. Jadi alasan soal tembakau, itu mengada-ada.
Warga kampung yang jengkel dengan khutbah tersebut kemudian mencegat kedua korban. Selanjutnya terjadi adu mulut dan berakhir dengan pemukulan. Ketua PCNU Kendal KH Mohammad Danial didampingi Ketua Ansor Wahidin Said kemarin mendatangi Mapolres Kendal. Di Polres, keduanya diterima Kasat Reskrim AKP Agus Purwanto.Dalam pertemuan, mereka meminta empat warga NU tersebut ditangguhkan penahanannya.
Sementara di gedung NU, puluhan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) disiapkan untuk menggeruduk Mapolres jika empat rekannya tidak dibebaskan. KH Mohammad Danial menilai polisi tidak berimbang dalam menangani kasus tersebut. Saat anggota JAT menistakan agama dengan mengkafirkan warga NU, polisi hanya diam. Namun ketika warga NU mereaksi dengan memukul anggota JAT, polisi langsung bergerak dengan menahan warganya.
Warga NU terpancing melakukan pemukulan kepada anggota JAT karena sejak 2008 mereka selalu mengkafirkan warga yang menggelar tahlil, manakib, dan ziarah kubur.“Jadi tahun ini istilahnya puncak kulminasi kemarahan warga NU yang selalu dikafirkan mereka,” ujar Danial. Menurut Danial, polisi mengesampingkan aspek keamanan dan ketertiban. Mestinya sebelum terjadi kasus pemukulan polisi harus menangani kasus penistaan agama yang dilakukan dua korban pemukulan yang anggota JAT.
Sementara,Ketua Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Nasikhin Jr mengaku pihaknya siap menggeruduk Mapolres untuk membebaskan empat warga NU.Ratusan personel Banser juga siap dikerahkan untuk membantu membebaskan warga yang ditahan polisi. Bahkan pihaknya siap menggelar razia terhadap anggota JAT di Kendal.
Usai berbincang satu sama lain, para santri menemui Sufi tua yang sedang duduk di teras musholla bersama Sufi Sudrun, Sufi Kenthir, dan Dullah. Niswatin yang penasaran meminta penjelasan seputar konflik JAT yang Wahhabi dengan NU yang Sunni. “Kalau sudah konflik seperti ini, apa tidak makin parah ke depannya nanti, pakde?” tanya Niswatin ingin tahu.
“Ah semua itu sebenarnya peristiwa ulangan saja,” kata Sufi tua berkomentar,”Maksudnya, sejarah itu cenderung terulang.”
“Maksudnya bagaimana pakde?” tanya Niswatin penasaran.
“Perang Wahhabi dengan NU kan sudah pernah terjadi di masa lalu?” kata Sufi tua.
“Kapan itu pakde?” sergah Patek menyela,”Saya kok belum tahu?”
“Perang pertama, sewaktu Perang Paderi di Sumatera Barat. Itu sejatinya kan perangnya Wahhabi dengan NU meski organisasi NU waktu itu belum terbentuk tapi tradisi keagamaan umat Islam di Sumatera Barat yang dikafirkan Wahhabi itu adalah sama dengan NU,” kata Sufi tua
“O itu saya pernah dengar dari Bagindo Letter, kepala adat Minang, pakde. Beliau menyatakan bahwa Perang Paderi itu sejatinya adalah perang Wahhabi-Sunni,” kata Patek.
“Yang kedua, ketika pecah konflik PKI dengan NU antara tahun 1964 – 1966,” kata Sufi tua.
Para santri tersentak kaget. Anoman yang penasaran langsung bertanya,”Bagaimana pakde bisa memandang konflik PKI – NU sebagai konfliknya Wahhabi dengan NU?”
“Lha pimpinan tertinggi PKI saat itu siapa?” tanya Sufi tua.
“Emh,..kalau tidak salah D.N.Aidit, pakde,” kata Anoman.
“Itu dia, Aidit itu keluarga Arab badui penganut Wahhabi,” kata Sufi tua,”Lewat PKI dilakukan penghujatan terhadap adat tradisi NU. Para kyai digolongkan sebagai setan desa. Tanah wakaf diserobot. Caci-maki terhadap kyai-kyai NU yang dianggap borjuis-feodal terus dilakukan sampai pecah konflik di berbagai tempat yang memuncak saat PKI melakukan makar.”
“Apa konfliknya dulu seperti di Kendal, pakde?”
“Mirip sekali,” kata Sufi tua,”Tanya orang-orang seusiaku yang mengalami peristiwa itu. Baca juga tulisan Agus Sunyoto berjudul Banser Berjihad Menumpas PKI. Semua itu konflik di akar yang meruyak sampai ke tingkat nasional.”
“Bagaimana pakde bisa menyimpulkan ada unsur Wahhabi dalam konflik berdarah PKI dengan NU?” tanya Niswatin ingin tahu.
“Gampang saja,” sahut Sufi tua,”Alimin, tokoh PKI internasional yang terlibat pemberontakan FDR/PKI tahun 1948 di Madiun, yang mengambil korban para kyai. Tapi di akhir hayatnya, Alimin berwasiat agar saat mati kelak ia ingin mati sebagai orang Jawa, yang didoakan dengan tahlilan dan slametan pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 hari. Itulah saat mati, orang-orang NU memaafkan kesalahan Alimin. Beramai-ramai mereka tahlilan mendoakan arwah tokoh PKI internasional itu.”
“:Dan orang NU tidak memaafkan Aidit beserta pengikutnya karena Aidit badui Wahhabi, begitu pakde?” tanya Niswatin.
“Kayaknya begitu, menurut simpulanku,” kata Sufi tua,”Entah benar entah tidak.”
You have read this article Badui /
Wahhabi
with the title
. You can bookmark this page URL https://khagussunyoto.blogspot.com/2012/12/penistaan-agama.html. Thanks!
Korporasi versus Disposable People
oleh Agus Sunyoto
Ketika menerima kabar
bahwa uji materi pasal 18 dan 19 UU No.4/2012 tentang APBN Perubahan yang menjadi dasar pengucuran uang negara untuk penanggulangan dampak semburan lumpur Lapindo yang diajukan telah ditolak Mahkamah Konstitusi, Roben dan Patek menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras-keras. Lepas dari argumen Mahkamah Konstitusi yang menyataan bahwa pemerintah harus ikut memikul tanggung jawab atas masalah yang diderita korban di luar peta area terdampak (PAT) agar korban mendapat kepastian hukum, yang pasti negara telah dirugikan dan sebaliknya korporasi PT Lapindo Brantas Inc diuntungkan besar-besaran.
Dengan kepala dipenuhi kilasan tanda tanya Roben dan Patek didampingi Dullah menghadap Guru Sufi yang sedang berbincang dengan Sufi tua, Sufi Sudrun dan Sufi Kenthir. Dengan wajah murung Roben mengungkapkan kegelisahan hatinya menghadapi kasus tidak masuk akal seputar penolakan uji materi pasal 18 dan 19 UU No.4/2012 tentang APBN Perubahan. “Sekali pun alasannya untuk kebaikan rakyat sebagai korban, tapi kan semua orang tahu bahwa negara telah dirugikan dan sebaliknya Lapindo Brantas Inc diuntungkan...Ini logika apa yang dipakai?” kata Roben sedih.
“Itu memang konsekuensi logis dari diterapkannya konsep Open Society yang digagas George Soros, Ben,” sahut Guru Sufi.
“Open Society bagaimana, Mbah Kyai?” sahut Roben tidak faham,”Mohon petunjuk.”
“Open Society itu dikemukakan George Soros dalam buku berjudul On Soros: Staying Ahead of the Curve yang menegaskan bahwa seiring meredanya ketegangan perang dingin (cold war) antara Barat dengan Timur yang ditandai runtuhnya komunisme, terjadi fenomena global, yaitu lahirnya tatanan baru yang disebut a global open society, yakni tatanan baru masyarakat dunia yang terbuka yang dibangun di atas empat ciri utama: (1) effective competition, yaitu bentuk persaingan di mana situasi nilai dan peluang-peluang selalu berubah; (2) memaksimalkan kebebasan individual dengan membiarkan orang memasuki berbagai pilihan alternatif yang tersedia secara global; (3) hubungan sosial berdasar kontrak sosial di mana individu sebagai nucleus dari struktur masyarakat mengambang secara global tanpa perlu akar tempat berpijak yang mengikat; (4) nilai-nilai hanyalah masalah pilihan seperti orang memilih di tempat mana mau berinvestasi atau berspekulasi. Itulah definisi ‘masyarakat global yang terbuka’ yang dilontarkan George Soros sebagai representasi pemikiran kapitalis global,” ungkap Guru Sufi menjelaskan.
“Berarti masyarakat terbuka itu terdiri dari individu-individu yang tidak memiliki identitas tertentu seperti identitas etnis, budaya, bahasa, agama, nasionalisme?” tanya Roben.
“Ya seperti itu, masyarakat terbuka (open society) adalah sebuah masyarakat bersifat trans-nasional yang tidak dibatasi ras, suku, budaya, bahasa, teritorial, agama. Sebuah masyarakat terbuka yang hak-hak asasi dan kebebasannya dilindungi oleh undang-undang di berbagai negara. Masyarakat yang bebas menentukan nilai-nilai apa yang dianut dan bebas melakukan spekulasi yang dianggap menguntungkan,” ujar Guru Sufi.
“Itu berarti persaingan antar individu dalam merebut sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik tetap ada kan, Mbah Kyai?” tanya Patek menyela.
“Ya sudah pasti, tetapi bukan lagi seperti teori Marxis dulu yang memilah persaingan itu ke dalam dua kelompok besar Borjuis dan proletar, melainkan persaingan antar individu secara bebas bersifat trans-nasional,” kata Guru Sufi.
“Namanya persaingan bebas, Mbah Kyai,” kata Patek menyimpulkan,”Berarti akan memunculkan keniscayaan pemenang persaingan dan pecundang, begitu kan Mbah Kyai?”
“Ya sudah pasti itu.”
“Apa nama kelompok pemenang persaingan?” tanya Patek ingin tahu.
“Soros tidak bicara soal pemenang dan pecundang dalam persaingan. Ia hanya bicara tentang masyarakat mengambang (floating mass) dalam konteks open society itu,” sahut Patek.
“Itu gagasan tidak masuk akal karena menyembunyikan sesuatu,” kata Patek,”Kalau menurut Mbah Kyai sendiri, apa akibat dari persaingan antar individu dalam open society itu?”
“Ya pemenang dan pecundang, pastinya.”
“Pemenangnya disebut apa, Mbah Kyai?”
“Menurutku harus disebut Capitalist,” kata Guru Sufi,”Yaitu penguasa kapital yang memperkuat diri dalam wujud korporasi trans-nasional dan multi-nasional.”
“Lha yang kalah disebut apa?”
“Disposable people.”
“Contohnya apa mbah Kyai?”
“Ya konflik korporasi Lapindo Brantas versus warga korban, konflik RS Omni International versus Prita, konflik warga alas Telogo Pasuruan versus perkebunan, konflik perusahaan sawit versus warga Mesuji, warga Sumbawa versus PT Newmont, itulah fakta yang hanya muncul ketika konsep open society diterapkan,” kata Guru Sufi.
“Lha jadinya korporasi tetap menang Mbah Kyai, karena hanya korporasi yang punya kapital besar untuk memenangkan persaingan,” kata Roben dan Patek bersamaan.
“Ya memang itu yang dikehendaki kapitalisme global,” kata Guru Sufi,”Bahkan kalau pun disposable people tidak dikalahkan, institusi negara yang dirugikan.”
“KAMPREEEET!”
“Semua bermuara pada UUD – Ujung ujungnya DUIT!”
“Apalagi lagi sekarang ini banyak orang lagi butuh dana gede untuk Pilpres, Pileg,.. korporasi pasti dimenangkan!”
Ketika menerima kabar
Dengan kepala dipenuhi kilasan tanda tanya Roben dan Patek didampingi Dullah menghadap Guru Sufi yang sedang berbincang dengan Sufi tua, Sufi Sudrun dan Sufi Kenthir. Dengan wajah murung Roben mengungkapkan kegelisahan hatinya menghadapi kasus tidak masuk akal seputar penolakan uji materi pasal 18 dan 19 UU No.4/2012 tentang APBN Perubahan. “Sekali pun alasannya untuk kebaikan rakyat sebagai korban, tapi kan semua orang tahu bahwa negara telah dirugikan dan sebaliknya Lapindo Brantas Inc diuntungkan...Ini logika apa yang dipakai?” kata Roben sedih.
“Itu memang konsekuensi logis dari diterapkannya konsep Open Society yang digagas George Soros, Ben,” sahut Guru Sufi.
“Open Society bagaimana, Mbah Kyai?” sahut Roben tidak faham,”Mohon petunjuk.”
“Open Society itu dikemukakan George Soros dalam buku berjudul On Soros: Staying Ahead of the Curve yang menegaskan bahwa seiring meredanya ketegangan perang dingin (cold war) antara Barat dengan Timur yang ditandai runtuhnya komunisme, terjadi fenomena global, yaitu lahirnya tatanan baru yang disebut a global open society, yakni tatanan baru masyarakat dunia yang terbuka yang dibangun di atas empat ciri utama: (1) effective competition, yaitu bentuk persaingan di mana situasi nilai dan peluang-peluang selalu berubah; (2) memaksimalkan kebebasan individual dengan membiarkan orang memasuki berbagai pilihan alternatif yang tersedia secara global; (3) hubungan sosial berdasar kontrak sosial di mana individu sebagai nucleus dari struktur masyarakat mengambang secara global tanpa perlu akar tempat berpijak yang mengikat; (4) nilai-nilai hanyalah masalah pilihan seperti orang memilih di tempat mana mau berinvestasi atau berspekulasi. Itulah definisi ‘masyarakat global yang terbuka’ yang dilontarkan George Soros sebagai representasi pemikiran kapitalis global,” ungkap Guru Sufi menjelaskan.
“Berarti masyarakat terbuka itu terdiri dari individu-individu yang tidak memiliki identitas tertentu seperti identitas etnis, budaya, bahasa, agama, nasionalisme?” tanya Roben.
“Ya seperti itu, masyarakat terbuka (open society) adalah sebuah masyarakat bersifat trans-nasional yang tidak dibatasi ras, suku, budaya, bahasa, teritorial, agama. Sebuah masyarakat terbuka yang hak-hak asasi dan kebebasannya dilindungi oleh undang-undang di berbagai negara. Masyarakat yang bebas menentukan nilai-nilai apa yang dianut dan bebas melakukan spekulasi yang dianggap menguntungkan,” ujar Guru Sufi.
“Itu berarti persaingan antar individu dalam merebut sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik tetap ada kan, Mbah Kyai?” tanya Patek menyela.
“Ya sudah pasti, tetapi bukan lagi seperti teori Marxis dulu yang memilah persaingan itu ke dalam dua kelompok besar Borjuis dan proletar, melainkan persaingan antar individu secara bebas bersifat trans-nasional,” kata Guru Sufi.
“Namanya persaingan bebas, Mbah Kyai,” kata Patek menyimpulkan,”Berarti akan memunculkan keniscayaan pemenang persaingan dan pecundang, begitu kan Mbah Kyai?”
“Ya sudah pasti itu.”
“Apa nama kelompok pemenang persaingan?” tanya Patek ingin tahu.
“Soros tidak bicara soal pemenang dan pecundang dalam persaingan. Ia hanya bicara tentang masyarakat mengambang (floating mass) dalam konteks open society itu,” sahut Patek.
“Itu gagasan tidak masuk akal karena menyembunyikan sesuatu,” kata Patek,”Kalau menurut Mbah Kyai sendiri, apa akibat dari persaingan antar individu dalam open society itu?”
“Ya pemenang dan pecundang, pastinya.”
“Pemenangnya disebut apa, Mbah Kyai?”
“Menurutku harus disebut Capitalist,” kata Guru Sufi,”Yaitu penguasa kapital yang memperkuat diri dalam wujud korporasi trans-nasional dan multi-nasional.”
“Lha yang kalah disebut apa?”
“Disposable people.”
“Contohnya apa mbah Kyai?”
“Ya konflik korporasi Lapindo Brantas versus warga korban, konflik RS Omni International versus Prita, konflik warga alas Telogo Pasuruan versus perkebunan, konflik perusahaan sawit versus warga Mesuji, warga Sumbawa versus PT Newmont, itulah fakta yang hanya muncul ketika konsep open society diterapkan,” kata Guru Sufi.
“Lha jadinya korporasi tetap menang Mbah Kyai, karena hanya korporasi yang punya kapital besar untuk memenangkan persaingan,” kata Roben dan Patek bersamaan.
“Ya memang itu yang dikehendaki kapitalisme global,” kata Guru Sufi,”Bahkan kalau pun disposable people tidak dikalahkan, institusi negara yang dirugikan.”
“KAMPREEEET!”
“Semua bermuara pada UUD – Ujung ujungnya DUIT!”
“Apalagi lagi sekarang ini banyak orang lagi butuh dana gede untuk Pilpres, Pileg,.. korporasi pasti dimenangkan!”
You have read this article with the title
. You can bookmark this page URL https://khagussunyoto.blogspot.com/2012/12/korporasi-versus-disposable-people.html. Thanks!
Subscribe to:
Posts (Atom)